Paper ESDH
Tugas Paper Mata Kuliah ESDH Medan, April 2021
ANALISIS POTENSI KAWASAN MANGROVE
DESA MERAK BELANTUNG KECAMATAN KALIANDA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh :
Muhammad Fajar As Arif
191201117
Hut 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul “Analisis Potensi Kawasan Mangrove Desa Merak Belantung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan” ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun paper ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam proses penyelesaian Paper ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi dengan baik. Begitu juga kepada semua asisten yang membantu dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian paper dengan baik.
Penulis sadar bahwa tulisam ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membantu penulis demi peyempurnaan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan ini. Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, April 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR……………………………………………………................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ................................................................................................................................1
1.2. Tujuan .............................................................................................................................................2
BAB II ISI
2.1. Karakteristik ……...........................................................................................................................3
2.2. Potensi Ekologi................................................................................................................................3
2.3. Potensi Ekowisata............................................................................................................................5
2.2. Potensi Ekonomi..............................................................................................................................6
BAB III PEMBAHASAN……………………………………………….................................................7
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan .....................................................................................................................................8
4.1. Saran…............................................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA……………………..........................................………………………………......9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan dengan faktor fisik yang ekstrim, seperti habitat tergenang air dengan salinitas tinggi. Pantai dan sungai dengan kondisi tanah berlumpur dan tingkat keasaman yang tinggi. Ekosistem ini mempunyai fungsi fisik menjaga kestabilan pantai, penyerap polutan, habitat burung, pembenihan ikan, udang dan biota laut pemakan plankton sebagai fungsi biologi serta sebagai areal budidaya ikan tambak, areal rekreasi serta sumber kayu sebagai fungsi ekonomi (Bismark et al., 2008).
Kawasan hutan mangrove selain berfungsi secara fisik sebagai penahan abrasi pantai juga memiliki fungsi biologi. Mangrove menjadi penyedia bahan makanan bagi kehidupan manusia terutama ikan, udang, kerang dan kepiting, serta sumber energi bagi kehidupan di pantai seperti plankton, nekton dan algae. Terdapat 38 jenis mangrove yang tumbuh di Indonesia, di antaranya yaitu marga Rhizophora, Bruguiera, Avicennia, Sonneratia, Xylocarpus, Barringtonia, Luminitzera, dan Ceriops. Secara ekologis pemanfaatan hutan mangrove di daerah pantai yang tidak dikelola dengan baik akan menurunkan fungsi dari hutan mangrove itu sendiri yang berdampak negatif pada potensi biota dan fungsi ekosistem hutan lainnya sebagai habitat (Supriharyono, 2000).
Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrient dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut. Secara ekologis hutan mangrove merupakan daerah asuhan (nursery ground), daerah pencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan, baik yang hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. Hal ini yang menyebabkan terjadinya interaksi atau asosiasi antara fauna dengan mangrove (Bekti, 2017).
Hutan mangrove berfungsi sebagai tempat mencari makan, berlindung, memijah dan pembesaran bagi berbagai jenis binatang air seperti ikan, udang, dan kepiting. Kondisi perairan yang tenang serta terlindung dengan berbagai macam tumbuhan menyebabkan perairan hutan mangrove menjadi tempat yang sangat baik untuk berkembangbiak bagi berbagai satwa. Terkait dengan sifat fauna yang pada umumnya sangat dinamis, maka batasan zonasi yang terjadi pada fauna penghuni mangrove kurang begitu jelas (Wardhana, 2011).
Secara garis besar fungsi ekonomis mangrove merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat, industri maupun bagi negara. Perhitungan nilai ekonomi sumberdaya mangrove adalah suatu upaya melihat manfaat dan biaya dari sumberdaya dalam bentuk moneter yang mempertimbangkan lingkungan. Perhitungan nilai ekonomi terhadap komoditi hutan mangrove bertujuan untuk memberikan gambaran potensi ekonomi hutan mangrove yang dapat dimanfaatkan secara langsung bagi kehidupan dan dapat digunakan sebagai acuan dalam aktivitas pemanfaatan serta memberikan gambaran pola pengelolaan yang akan dilakukan. Nilai ekonomi nilai guna langsung juga menunjukkan tingkat optimalisasi pemanfaatan yang telah dilakukan di kawasan hutan mangrove tersebut, sehingga terjadinya pemanfaatan mangrove tidak memberikan dampak buruk dan degradasi mangrove di masa mendatang (Qodrina et al., 2012).
Desa Merak Belantung terletak di wilayah pesisir dan memiliki sumberdaya alam hutan mangrove yang melimpah. Hutan mangrove Desa Merak Belantung memiliki manfaat yang besar dari segi ekonomi, ekologi, dan sosial bagi masyarakat sekitarnya, namun hanya sedikit masyarakat Desa Merak Belantung yang mengetahui manfaat langsung dan tidak langsung dari keberadaan hutan mangrove dan terlebih terhadap nilai guna langsung yang memiliki potensi ekonomi yang secara tidak sadar telah mereka dapatkan. Diperlukan perencanaan pengelolaan hutan mangrove yang optimal dengan mengetahui secara pasti potensi yang ada di dalamnya. Potensi yang ada tidak hanya meliputi potensi biotik, tetapi juga faktor abiotik beserta lingkungannya. Untuk mengetahui potensinya maka perlu dilakukan kajian mengenai potensi hutan mangrove yang ada pada kawasan tersebut (Bengen, 2011).
1.2 Tujuan
1. Mengetahui potensi kawasan hutan mangrove Desa Merak Belantung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.
2. Mengetahui besaran nilai ekonomis kawasan hutan mangrove di Desa Merak Belantung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.
BAB II
ISI
2.1 Karakteristik
Desa Merak Belantung berjarak ± 3 km dari jalan lintas utama Sumatera. Jalan yang menuju Desa Merak Belantung cukup baik, jalan ini telah di aspal dan memiliki lebar lebih kurang ± 5 meter sehingga memungkinkan untuk kendaraan roda 4. Namun pada saat-saat tertentu ada beberapa titik jalan yang tergenang akibat air laut, biasanya hal ini terjadi 1 tahun sekali pada saat musim gelombang pasang yaitu antara bulan Juni-Agustus. Apabila jalan menuju Desa Merak Belantung tergenang air laut, maka akses menuju desa dialihkan melalui jalan alternatif yang menghubungkan Desa Gunung Terang dan Desa Merak Belantung.
Pada hutan mangrove Desa Merak Belantung terdapat aliran sungai yang terletak di perbatasan Dusun Merak dan Dusun Bulok. Sungai ini membelah areal hutan mangrove dan langsung bermuara ke laut dengan muara yang cukup luas. Pada bagian tepi muara ditumbuhi oleh mangrove dari famili Rhizophoraceae. Pada saat pasang muara akan tergenang oleh air laut sehingga kedalaman meningkat. Pantai yang berada di hilir Sungai Bulok memiliki pemandangan ke laut lepas yang indah dengan latar belakang Gunung Rajabasa. Pantai ini memiliki pasir yang putih dan bersih, bentuk pantai menyerupai huruf U karena merupakan teluk kecil (Qadrina et al., 2012).
2.2 Potensi Ekologi
Terdapat 15 spesies pohon mangrove di hutan mangrove Desa Merak Belantung yang terdiri dari 9 famili dan tergolong kedalam 3 kelompok mangrove yaitu kelompok mangrove mayor, minor dan asosiasi. Kelompok mayor merupakan komponen yang memperlihatkan karakter morfologi, seperti mangrove yang memiliki sistem perakaran udara dan mekanisme fisiologi khusus untuk mengeluarkan garam agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kelompok minor adalah komponen yang tidak termasuk elemen yang menyolok dari tumbuhan-tumbuhan yang mungkin terdapat di sekeliling habitatnya dan yang jarang berbentuk tegakan murni, sedangkan kelompok asosiasi merupakan komponen yang jarang ditemukan spesies yang tumbuh di dalam komunitas mangrove yang sebenarnya dan kebanykan sering ditemukan dalam tumbuhtumbuhan darat (Kustanti, 2011).
Berdasarkan analisis vegetasi hutan mangrove diketahui Indeks Nilai Penting didapatkan dari penjumlahan Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), dan Dominansi Relatif (DR) dari masing-masing spesies pohon mangrove. Kerapatan relatif pada hutan mangrove Desa Merak Belantung yang tertinggi adalah pohon bakau kecil (Rhizophora apiculata) sebesar 55,1%, sedangkan pohon dengan kerapatan relatif terendah adalah pohon api-api (Avicennia alba) sebesar 2,54%. Frekuensi relatif tertinggi terdapat pada pohon bakau besar (Rhizophora mucronata) dan mengadai (Lumnitzera racemosa) dengan frekuensi relatif 33,33%, sedangkan pohon yang memiliki frekuensi relatif terendah adalah pohon api-api (Avicennia alba) sebesar 11,11%. Pohon mangrove yang memiliki dominansi relatif tertinggi adalah pohon bakau besar (Rhizophora mucronata) sebesar 69,76%, sedangkan pohon dengan dominansi relative terendah adalah pohon api-api (Avicennia alba) sebesar 5,4% (Buwono et al., 2015).
Jenis pohon mangrove di Desa merak Belantung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung selatan yang memiliki indeks nilai penting terbesar adalah pohon bakau besar (Rhizophora mucronata) sebesar 133,6%, sedangkan pohon mangrove yang memiliki indeks nilai penting terendah adalah pohon api-api (Avicennia alba) sebesar 19,05%. Indeks nilai penting merupakan parameter suatu janis pohon dapat dikatakan sebagai penguasa dalam suatu komunitas karena jika dalam suatu komunitas terdapat pohon yang memiliki indeks nilai penting tertinggi makan pohon tersebut dikatakan lebih dominan dan menguasai suatu komunitas tersebut (Indriyanto, 2010).
Jenis Rhizophora berkembang pada tanah-tanah yang relatif lebih kasar dibandingkan dengan Avicennia, tetapi secara umum masih dapat digolongkan pada tanah bertekstur halus. Kadar bahan organik pada tanah dibawah tegakan Rhizophora apiculata pada umumnya relatif tinggi dan salinitas tanah yang sedang. Avicennia alba mampu beradaptasi pada keadaan salinitasnya yang cukup tinggi. Pada umumnya Bruguiera gymnorrhiza tumbuh baik pada substrat berupa tanah kering dengan genangan pasang tidak menentu dan salinitas berada di bawah 25‰. Menurut bahwa jenis Avicennia sp dan Sonneratia sp umumnya berkembang pada tanah bertekstur halus, kaya akan bahan organik, dan salinitas tinggi (Barkey, 2013).
2.3 Potensi Ekowisata
Potensi wisata adalah berbagai sumber daya yang dimiliki oleh suatu tempat dan dapat dikembangkan menjadi suatu atraksi wisata (tourist attraction) yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek lainnya. Jenis kegiatan wisata yang ada dikawasan mangrove Desa Merak Belantung diantaranya fotografi, berenang, pengamatan burung, berkano, menyusuri gutan mangrove dan memancing (Pendi, 2003).
Kegiatan fotografi dilakukan dengan mengambil gambar atau foto dari objek yang menarik bagi pengambil gambar. Tempat favorit untuk kegiatan fotografi pada umumnya adalah di pantai. Pantai yang ada di Desa Merak Belantung cukup indah dengan berlatar Gunung Rajabasa, namun pada pagi dan sore hari biasanya Gunung Rajabasa tertutup kabut, jadi waktu yang baik untuk mengambil gambar atau foto adalah sekitar jam 10.00–15.00 WIB.
Selain pantai, tegakan mangrove juga memiliki keindahan tersendiri, karena pada beberapa jenis mangrove memiliki keunikan yang khas seperti akar nafas, akar tunjang, dan propagul yang menggantung di dahan-dahan mangrove. Hutan mangrove yang masih alami adalah rumah bagi para burung. Oleh karenanya melakukan pengamatan burung dapat dilakukan di muara dan tegakan mangrove. Waktu yang paling ideal untuk melakukan pengamatan burung adalah di pagi hari saat burung keluar dari sarang untuk mencari makan, atau pada sore hari saat burung-burung akan kembali ke sarangnya(Saputra et al., 2014).
Pantai dikawasan mangrove Desa Merak berada di hilir Sungai Bulok yang terletak di Teluk Lampung sehingga memiliki ombaknya tidak terlalu besar dan tidak berbahaya. Pantai ini memiliki dasar berupa pasir, sehingga wisatawan tidak perlu takut akan cedera karena karang. Oleh karenanya banyak wisatawan yang menikmati keindahan pantai sambil berenang. Selain itu ombak yang tenang juga cocok untuk berkano. Panjang aliran Sungai Bulok yang membelah hutan mangrove ± 1 Km, dengan lebar antar tepi sungai berkisar 5–10 meter. Susur sungai menggunakan kano membelah hutan mangrove akan memberikan pengalaman yang menyenangkan.
2.4 Potensi Ekonomi
Berdasarkan hasil observasi di lapangan dan pendapat responden penelitian secara snowball didapatkan informasi mengenai komoditi hutan mangrove di Desa Merak Belantung yang memiliki nilai ekonomi adalah ikan kakap, ikan belana, ikan belodok, udang windu, kerang tiram, kerang lokan, kepiting, dan buah pidada. Tidak semua masyarakat Desa Merak Belantung mencari dan memanfaatkan komoditi langsung hutan mangrove untuk mereka jual, tetapi ada juga beberapa masyarakat yang mencari komoditi langsung hutan mangrove hanya untuk mengisi waktu senggang mereka dengan mencari komoditi langsung hutan mangrove tersebut untuk dikonsumsi pribadi, dan tidak sedikit pula masyarakat yang menjaring udang sebagai umpan memancing ikan untuk menyalurkan hobinya.
Penilaian berdasarkan harga pasar Komoditi hutan mangrove Desa Merak Belantung yang memiliki nilai pasar adalah ikan kakap, ikan belanak, ikan belodok, udang windu, kerang tiram, kerang lokan, dan kepiting. Diketahui bahwa komoditi hutan mangrove Desa Merak Belantung yang memiliki nilai ekonomi tertinggi adalah kepiting yaitu sebesar Rp 219.000.000/tahun dan komoditi yang memiliki nilai ekonomi terendah adalah ikan belanak dan kerang tiram yaitu sebesar Rp 18.250.000/tahun.
Komoditi hutan mangrove Desa Merak Belantung yang tidak memiliki nilai pasar adalah buah pidada. Nilai ekonomi dari buah pidada diketahui dengan menggunakan metode kesediaan menerima pembayaran, responden yang bersedia menerima pembayaran untuk komoditi hutan mangrove buah pidada ini adalah 1 orang karena menurut responden komoditi tersebut dapat dikonsumsi sebagai lauk pendamping makan atau dapat diolah menjadi sirup yang bisa diminum.
Dugaan nilai rataan responden didapatkan dari data distribusi kesediaan menerima pembayaran (WTA) masing-masing responden. Perhitungan nilai rataan WTA dapat diketahui dengan perhitungan hanya 1 responden yang mengetahui manfaat dari buah pidada yang memiliki potensi ekonomi. Dugaan nilai rataan WTA dari komoditi hutan mangrove buah pidada ini adalah sebesar Rp 2.190.000/tahun. Sehingga perlu dilakukan pengembangan potensi buah pidada untuk menambah nilai ekonomis mangrove kawasan ini.
BAB III
PEMBAHASAN
Hutan mangrove Desa Merak Belantung memiliki kondisi yang tidak terlalu terawat karena hanya beberapa masyarakat yang mengetahui fungsi dan manfaat dari keberadaan hutan mangrove bagi daerah pinggir pantai dan pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan. Hanya masyarakat yang memanfaatkan hasil hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidup atau mendapatkan tambahan biaya kehidupan yang merawat dan menjaga kelestarian hutan mangrove Desa Merak Belantung.
Untuk mengembangkan potensi kawasan mangrove bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah konsep ekowisata. Ekowisata merupakan salah satu alternatif untuk mengembangkan suatu kawasan menjadi tujuan wisata yang tetap memperhatikan konservasi lingkungan dengan menggunakan potensi sumberdaya serta budaya masyarakat lokal. Pengembangan ekowisata ditujukan untuk menghasilkan keuntungan secara ekonomi, namun di sisi lain pengembangan juga harus memperhatikan terjaganya kualitas ekologis maupun sosial. Konsep semacam ini sering disebut konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).
Banyak potensi hutan mangrove yang tidak diketahui masyarakat seperti halnya buah pidada. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mengetahui bahwa buah ini dapat dikonsumsi sebagai lauk pendamping makan (lalapan) atau diolah menjadi minuman, sehingga kesediaan responden menerima pembayaran untuk komoditi ini pun rendah. Faktor-faktor internal masyarakat seperti pengetahuan, pendidikan, budaya, familiaritas, ekonomi, dan variabel demografi mempengaruhi perkembangan potensi suatu daerah.
Penialaian visual suatu objek dipengaruhi oleh tampilan warna, cahaya, dan keteraturan. Warna dari suatu objek dapat menimbulkan efek visual tergantung pada refleksi cahaya yang jatuh pada objek tersebut. Selain itu warna juga dapat menarik perhatian manusia dan mempengaruhi emosi yang melihatnya. Umumnya masyarakat juga menyukai keteraturan atau kerapihan suatu objek, semakin tertatur dan tersusun rapih suatu objek cenderung semakin disukai.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Potensi mangrove di Desa Merak Belantung adalah ekosistem mangrove, aliran sungai mangrove, muara sungai dan pantai.
2. Jenis kegiatan wisata yang ada dikawasan mangrove Desa Merak Belantung diantaranya fotografi, berenang, pengamatan burung, berkano, dan menyusuri hutan mangrove.
3. Komoditi hutan mangrove Desa Merak Belantung yang memiliki nilai ekonomi yaitu ikan kakap, ikan belana, ikan belodok kerang tiram, kerang lokan, kepiting, udang windu, dan buah pidada.
4. Komoditi hutan mangrove Desa Merak Belantung yang memiliki nilai ekonomi tertinggi adalah kepiting sebesar Rp 219.000.000/tahun dan komoditi yang memiliki nilai ekonomi terendah adalah ikan belanak dan kerang tiram sebesar Rp 18.250.000/tahun.
5. Terdapat 15 jenis pohon mangrove pada hutan mangrove Desa Merak Belantung, terdiri dari 9 famili dan tergolong dalam 3 kelompok mangrove yang didominasi oleh Rhizophora mucronata yang memiliki indeks nilai penting sebesar 133,6%.
4.2 Saran
Perlu dilakukan pengembangan potensi ekowisata pengamatan burung dengan membuat menara pandang. Selain itu edukasi kepada masyarakat sekitar kawasan mangrove harus digencarkan untuk menambah wawasan masyarakat mengenai potensi yang tersimpan di hutan mangrove.
DAFTAR PUSTAKA
Bekti U, Sri B, Chatarina M. 2017. Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Di Desa Tanggul Tlare Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Jurnal Ilmu Lingkungan. 15(2): 117-123
Bengen DG. 2001. Panduan Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. IPB Press. Bogor.
Bismark
M,Endro S, Heriyanto NM. 2008. Keragaman dan Potensi Jenis Serta Kandungan
Karbon di Hutan Mangrove di Sungai
Subelen Siberut, Sumatera Barat Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi
Alam. 5(3): 297-306
Buwono YR, Ardhana IPG, Sudarma M. 2015. Potensi Fauna Akuatik Ekosistem Hutan Mangrove di Kawasan Teluk PangPang Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Ecothropic. 9(2): 28-33
Dahuri R. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Buku. Pradnya Paramita. Jakarta.
Masithah D, Kustanti A, Hilmanto R. 2016. Nilai Ekonomi Komoditi Hutan Mangrove di Desa Merak Belatung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Sekatan. Jurnal Sylva Lestari. 4(1): 69-80
Saputra SE, Setiawan A. 2014. Potensi Ekowisata Hutan Mangrove di Desa Merak Belatung Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Sylva Lestari. 2(2): 49-60
Qodrina L, Hamidy R, Zulkarnaini. 2012. Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove di Desa Teluk Pambang Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Jurnal Ilmu Lingkungan. 6(2): 93-98
Whardani MK. 2011. Kawasan Konservasi Mangrove: Suatu Potensi Ekowisata. Jurnal Kelautan. 4(1): 60-76

Sangat bermanfaat, semangat berkarya terus :)
BalasHapusterimakasih telah mampir ke blog ini
HapusBermanfaat sekali jar
BalasHapusmakasih decc
HapusInformatif syekali
BalasHapusterimakasih sri
HapusSangat informatif. Dapat menambah wawasan pengetahuan tentang potensi ekonomi di kawasan mangrove tersebut
BalasHapusterimakasih gracee
HapusSangat bermanfaat, bagussss bangeeeeettttt.
BalasHapusBagusss bangetttt, bermanfaat sekali.
BalasHapusterimakasih vika..
HapusSangat bermanfaat dan menambah pengetahuan .
BalasHapusterimakasih telah mampir ke blog ini sanak
HapusMantap bang
BalasHapusterimakasih bangda
HapusSangat bermanfaat fajar, sehingga hutan mangrove bisa dijadikan tempat objek wisata,kerenn
BalasHapusmakasih saaa
HapusBagus sekali untuk menambah wawasan, mantap
BalasHapusmakasih diak jimm
HapusBagus dan Sangat bermanfaat
BalasHapusSangat informatif, semangat berkarya terus
BalasHapusterimakasih telah mampir ke blog ini jep
HapusWah terima kasih sangaat membantu
BalasHapusMenambah pengetahuan
BalasHapusterimakasih ky
HapusWahh sangat informatif
BalasHapusterimakasih telah mampir ke blog ini dir
HapusSaya tidak tahu lagi apa yg harus dibilang
BalasHapusLengkap bet dah
Kek pepatah itu tidak ada gading yang retak
Mohon maaf atas keretakan keluarga gading
Ehh ingat GIs*l jadinya
Itulah kan mknyaa
Auu ahh
bal ball..
Hapuswah ternyata kawasan mangrove memiliki niai ekonomi yang cukup besar juga, sangat informatif
BalasHapusmakasih woeee
HapusMantap
BalasHapusterimakasih telah mampir ke blog ini sanak
HapusTulisan sangat informatif
BalasHapusterimakasih telah mampir ke blog ini kakkk
HapusMenambah wawasan
BalasHapusterimakasih telah mampir ke blog ini lil
HapusSangat bermanfaat, dapat menambah wawasan dan sebagai sumber referensi
BalasHapusmakasih ubayyy
HapusNice
BalasHapusmakasih sanak
HapusMantap
BalasHapusthank u judd
HapusMantap sangatt bermanfaat
BalasHapusterimakasih sodd
HapusSangatt bermanfaatt
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmantap jar sanagt Informatif dan bermanfaat, teruskan 👍🏽
BalasHapussangat bermanfaat dan inovatif
BalasHapusKalau lai ado wakatu bisa kito bakuliliang sambia carito2 dihutan mangrove yo da
BalasHapusMantap , mangrove sangat berpotensi dalam menyokong kesejahteraan 👍
BalasHapus